Bakmie Jogja

Bakmie Jogja

Penasaran dengan tempat makan yang selalu ramai ini yang juga bertempat di sekitar taman pramuka ini, akhirnya saya dan kawan les saya pada Jumat kemarin mencoba kesini sepulang les. Dengan suasana dingin sehabis Kota Bandung baru saja diguyur hujan lebat, sepertinya pas jika menyantap mie rebus. Langsung saja kami ke Bakmie Jogja yang kebetilan persis bersebahan dengan tempat les kami di TBI Riau.

Unik. Kata pertama yang saya ucapkan karena pelayanan di sini memang benar-benar berbeda. Dengan notaben berdiri di tanah sunda, namun pertama kali datang akan langsung disapa dengan ramah menggunakan boso jowo. Untung saya sedikit mengerti bahasa jawa jadi ngga “blahbloh”, hhe.

Sebelum duduk pastikan Anda mengambil nomor antrian yang merupakan urutan pelayanan tiap meja. Menu yang ada tidak hanya mie saja namun ada menu lain seperti nasi goreng dan beberapa minuman tradisional khas jawa. Saya memesan sepiring Mie Godhok, semacam mie rebus gitu. Ada tiga macam mie, mie godhok, mie goreng, dan mie nyemek. 

 

mie godhok

Pembuatannya pun pakai areng bakar, jadi aroma makanannya maknyuss. Selain itu selama disini pasti diiringi dengan gending jawa atau nanyian khas jawa dan suasana ya pun benar-benar seperti di Jogja.  


Pokoknya daripada penasaran langsung aja kesini, dijamin bakal balik lagi!

Advertisements
[EVENT] Bandung Heritage Study Game 2015

[EVENT] Bandung Heritage Study Game 2015

BHSG
Dalam rangka menyambut peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA ) ke 60 tahun pada tahun 2015 ini banyak sekali event yang diselenggarakan terutama di kota Bandung. Salah satu event yang saya ikuti yaitu Bandung Historical Study Games (BHSG), yang merupakan event yang bertujuan memperkenalkan sejarah kota Bandung dan tempat-tempat yang memiliki nilai historis di Kota Bandung ini.

BHSG ini merupakan sebuah acara bertema adventure rally game yang dilaksanakan secara berkelompok, dimana setiap kelompok berkompetisi dalam memecahkan quest yang diberikan oleh panitia untuk dijawab sesuai dengan petunjuk. Acara ini lumayan menguras tenaga dan pikiran. Lomba yang dimulai dari jalan Braga (belakang Gedung Merdeka) dengan berjalan kaki dengan rute Gd. Merdeka – Penjara Banceuy – Viaduct – Balai Kota – Bank BTPN – St. Aloysius – Museum Pos – Gd. Dwi Warna. Nah setelah satu jam beristirahat di Gd. Dwi Warna, saatnya acara yang sesungguhnya dimulai.

Time trial pun dimulai dari Gd. Dwi Warna hingga Gd. Merdeka, dimana tiap tim harus sampai paling cepat dan menyelesaikan tiap quest yang ada di beberapa titik sepanjang rute yang terbagi menjadi rute Asia dan Afrika sesuai dengan nama tim yang telah dibagi sebelumnya. Setiap pos memiliki pertanyaan dan tantangan yang berbeda, mulai dari menyusun puzzle hingga selfie di monumen yang ada disekitar pos. Cukup “cangkeul” memang berlarian dari pos satu ke pos selanjutnya, apalagi tim saya melewatkan satu pos.

Di Monumen Ajat (Jl. Veteran)

 

Namun sesampainya di Gd. Merdeka, saya dapat merasakan kursi yang sehari sebelumnya diduduki oleh para pejabat negara yang menjadi tamu undangan peringatan KAA ke 60 ini. Nilai historis di ruang aula Gd. Merdeka ini sangat tinggi, apalagi dapat berfoto di dalam sini merupakan suatu kebanggaan tersendiri.

Walaupun tidak menang namun tetap kami terima dan yang terpenting yaitu pesan dan momen yang saya dapatkan dengan bergabungnya dalam event ini. Uhurui Uhurui Uhurui!

/image source here

Jalan-Jalan ke Dusun Bambu dan Floating Market (Lembang Edition)

Jalan-Jalan ke Dusun Bambu dan Floating Market (Lembang Edition)

Masih di waktu liburan kuliah, selagi ada waktu senggang saya isi dengan hal-hal yang menyenangkan salah satunya jalan-jalan. Kali ini saya mengisi weekend dengan mengunjungi Dusun Bambu dan Floating Market. Setelah dirundingin sehari sebelumnya tentang urutan tempat yang akan dikunjungi, akhirnya Dusun Bambu lah yang pertama kali kita kunjungi.

Dusun Bambu

Walau sempat ada insiden yaitu motor saya diserempet mobil, tapi tidak mengurangi semangat untuk mengeksplor Dusun Bambu ini. Awalnya saya kira Dusun Bambu ini hanya tempat makan dengan beberapa rumah seperti sangkar burung. Namun ternyata salah! Dengan membayar karcis masuk Rp. 10.000 per orang dan tarif motor Rp. 10.000. Untuk menuju ke “jantung” dari Dusun Bambu itu sendiri, kita harus menumpang mobil “warawiri” semacam shuttle dari bawah ke atas. Begitu sampai diatas, kita bebas mau main kemana.

dusun bambu

-Lutung Kasarung

Di sini kita bisa makan didalam rumah pohon yang dihias sedemikian rupa menyerupai sangkar burung. Entah apa korelasi nama “lutung” sama rumah sangkar burung ini, bisa Anda lihat di webnya. Tapi sensasi kalau makan didalamnya keren juga. Namun karena sadar diri dengan keterbatasan sebagai mahasiswa, ya kami baru bisa foto-foto saja didekatnya. hehe

-Pasar Khatulistiwa

Semacam food center yang menwarkan banyak pilihan jajanan pasar tradisional. Dari ketan bakar, kue ape, dan masih banyak lagi kuliner yang disajikan disini (tentunya harga tempat wisata yah!).

IMG_7293

-Purbasari

Awalnya saya kira ini semacam cottage, ternyata setelah ditelusuri itu tempat makan lesehan. Makan di danau kecil ini sepertinya menambah kenikmatan selain di pinggir danau, kita juga bisa sambil melihat pemandangan hamparan pegunungan di depannya. Untuk berfoto juga spot disini cukup menarik.

IMG_7453

Floating Market

Ini dia tempat yang sempat jadi trending topic sejak lama, dan akhirnya saya bisa kesini beberapa tahun kemudian. Lokasinya ternyata cukup dekat, dekat dengan jalan raya Grand Hotel Lembang dan memiliki lahan parkir yang sangat luas. Tiket masuk per orangnya yakni Rp.15.000 dan motor Rp.5000. Di floating market ini pedagangnya berjualan di atas perahu yang menyandar. Kebetulan kami datang kesini saat maghrib dan sudah banyak yang habis. Oh iya, bertransaksi disini pakai koin khusus yang dapat dibeli di loket-loket yang tersedia dengan kelipatan 5ribu. Banyak pilihan kuliner yang berada di sepanjang danau ini dengan harga yang masih masuk kantong. Namun ada juga restoran namun tidak terapung. Tiket masuk dapat ditukarkan dengan minuman (kopi, lemon tea, atau milo) di area foodmartnya.

Menurut saya untuk berkunjung kesini mau siang ataupun malam tidak masalah asal jangan terlalu malam. Sebab pukul 7 malam saja sudah pada pulang perahu-perahunya dan tepat pukul set.8 sudah hampir tidak ada yang buka.

Liburan ke Pulau Belitung

Liburan ke Pulau Belitung

Akhir tahun ini Alhamdulilah saya dan sekelurga masih diberi kesempatan untuk liburan. Kali ini destinasi liburan kami yaitu ke Belitung! Sebuah tempat impian yang sudah saya idamkan sejak lama, karena keindahan pantai-pantainya dan juga tempat-tempat unik yang tergambar di film laskar pelangi. Kami berlibur dengan 2 keluarga rekan kerja ayah terasa lebih ramai lagi.

Berangkat pada hari jumat 26 Desember 2014 dengan morning flight Garuda Indonesia GA282 dari Soekarno-Hatta (CGK) menuju Tanjung Pandan (TJQ) pada pukul 06.40 dan dengan lama perjalanan yaitu 40 menit. Kondisi cuaca baik di Jakarta dan Tanjung Pandan semua cerah, hari yang baik.

Sampai di Tanjung Pandan yang juga ibukota dari kab. Belitung Timur, kami sarapan dulu diseuah tempat makan khas dan saya memesan mie belitong. Mie dengan rasa yang “maknyus” karena kuahnya yang gurih dari kaldu rebusan udang dan pastinya bikin nambah terus. Abis sarapan mendrop koper di penginapan lalu langsung bergegas ke ujung lain dari pulau Belitung, Manggar.

SD Laskar Pelangi

SD Muhammadiya atau lebih dikenal dengan nama SD Laskar Pelangi, yaitu replika SD Muhammadiya yang asli yang dibangun guna kebutuhan syuting film Laskar Pelangi. Namun setelahnya tempat ini dijadikan objek wisata setempat. Bangunannya sangat-sangat sederhana dan kalau kita lihat keadaan aslinya di masa lalu memang bisa dibilang memprihatinkan. Tapi semangat belajar siswa-siswinya lah yang membuat bangunan tersebut memiliki energy tersendiri.

Pantai Tanjung Tinggi

Pantai yang jadi tempat syuting film Laskar Pelangi ini salah satu objek wisata terkenal di Belitung. Namanya Tg. Tinggi mungkin diambil karena bebatuan yang besar nan-tinggi sehingga kita bisa berdiri dengan tinggi disana (mungkin). Salah satu ciri khas tempat ini yaitu bebatuan besar di area pantai. Namun perlu hati-hati saat berjalan atau mengambil foto diatas bebatuan, karena ada yang berlumut sehingga membuat permukaannya licin dan rawan orang terpeleset.

Tanjung Tinggi

Tanjung Tinggi

Tanjung Tinggi 2

Tanjung Tinggi 2

Museum Kata (Literary Museum)

Museum kata merupakan literary museum pertama di Indonesia (katanya). Dari luar nampak rumah atau museum ini kecil, tapi jika sudah masuk akan terlihat cukup luas. Didinding-dinding rumah yang berukuran tidak luas ini, ditempel oleh tulisan-tulisan dan gambar berbagai jenis ukuran. Isi dari museum kata ini seperti namanya, yaitu karya-karya literatur yang didominasi dari karya-karya Andrea Hirata. Buku-buku novel karya Andrea Hirata seperti Laskar Pelangi, Edensor sampai Padang Bulan pun dipamerkan disini, bahkan ada novel yang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa asing. Di rumah yang sederhana namun luas ini, pengunjung dapat bersantai dan para orang tua bisa bernostalgia akan bentuk rumah kayu “jaman baheula” yang memang sengaja didesain seperti ini. Selain buku ada juga barang-barang antic seperti tv, radio, hingga sepeda ontel. Tidak hanya itu, di bagian daput terdapat penjual kopi yang memang bisa dipesan. Kenapa kopi? Kamu bisa tahu hubungan masyarakat Belitung terhadap kopi dan banyak warung kopi di Belitung dari novel Cinta dalam Gelas karya Andrea Hirata. Inspiratif dan berseni sekali Literary Museum ini.

Museum Kata

Museum Kata

IMG_6722

Pulau Tanjung Kelayang

Salah satu pulau destinasi wisata di kepualauan Belitung ini menawarkan pemandangan dan pantai yang indah. Di pulau ini terdapat penangkaran penyu juga. Kebersihan pantai di pulau Kelayang ini pun masih sangat terjaga karena belum banyak wisatawan yang memadati atau berdatangan ke pulau ini. Untuk dapat sampai ke pulau Kelayang, kita perlu naik boat selama kurang lebih 30 menit dari pelabuhan. Setelah sampai di pulau Kelayang, kita perlu berjalan lagi sekitar 300m untuk dapat melihat sisi lain pulau ini yang menghadap langsung ke pulau Lengkuas yang memiliki sebuah mercusuar. Pemandangannya di pulau Kelayang ini patut diacungi jempol!

Pulau Kelayang


 

Slideshow beberapa foto di Belitung

This slideshow requires JavaScript.

Sate Maranggi Cibungur

Sate Maranggi Cibungur

Setelah banyak dengar dari orang-orang mengenai sate maranggi ini, akhirnya tadi siang sepulang melakukan aktivitas di Cikarang dan hampir terjebak gerombolan buruh yang siap berdemo, saya dan rombongan (Pa Haris, Bu Murni & Agung) menyempatkan untuk makan siang disini. Berlokasi di Purwakarta, ternyata pengunjung sate ini cukup banyak dan bahkan mobil-mobil plat B dan D lah yang mendominasi. Tempat parkirnya sangat luas dan kapasitas restorannya pun cukup untuk menampung ratusan pengunjung.

Menu utama di tempat makan ini tidak lain satenya sendiri, sate kambing maupun sapi dengan bumbu tomat dan cabai yang dipotong-potong. Awalnya sempat galau karena takut pedas bumbunya, ternyata setelah di coba rasanya “maknyus!” apalagi ditemani dengan segelas es kelapa muda yang segar. Tidak heran kenapa banyak orang yang notabenya non-Purwakarta yang banyak mengunjungi tempat ini. Untuk masalah harga sendiri saya kurang tahu persis, karena dibayarkan oleh Pa Haris! (terima kasih loh pak 🙂 ).

PhotoGrid_1416534924487

20141120_141224