Catatan Perjanalan : Singapura #1

Singapura – Bagian pertama

Dulu saya pernah membaca sebuah artikel yang ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali yang juga pernah saya post di blog saya, beliau menulis “Pasport adalah tiket untuk melihat dunia” dan sejak membaca itulah saya kemudian bergegas ke kantor imigrasi untuk membuat passport dan saat di wawancara saya menjawab “saya mau ke Singapura pak” .. dan akhirnya terwujud 3 tahun kemudian.

Saat baru kerja kira-kira satu bulan dan sudah punya uang hasil keringat sendiri, tiba-tiba saya ingat akan mimpi saya dulu untuk bisa pergi keluar negeri dan yang langsung keluar dari benak saya yaitu Singapura. Kenapa Singapura? Menurut saya Singapura merupakan negara maju yang letaknya paling dekat dengan Indonesia dan harga tiketnya pun terjangkau lalu langsung saja saya booking tiket untuk tanggal keberangkatan 4 bulan yang akan datang (menyesuaikan libur panjang).

Untungnya saya berangkat tidak sendiri, ditemani oleh keluarga dari E’lies (adik dari ibu saya) dan Eyang Putri & Mbah Kakung saya yang tiba-tiba ingin ikut seminggu sebelum keberangkatan (untungnya lagi masih dapat tiket dengan penerbangan yang sama). Singkat cerita akhirnya tanggal yang saya tunggu-tunggu datang juga yaitu 6 Februari 2016.

Keberangkatan

Kami berangkat menggunakan pesawat Tiger Air terbang sekitar pukul 10am dari bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. Saya kira prosedur kalau ingin keluar negeri bakalan ribet, tetapi ternyata sangat mudah. Dengan menunjukkan e-tiket yang tidak perlu di print dan buku passport mulai dari check-in sampai imigrasi semua berjalan lancar dan lumayan cepat. Sengaja tidak membeli bagasi selain adanya biaya tambahan serta memang tidak perlu dapat mempercepat waktu check-in. Setelah melewati imigrasi, kita bisa membeli barang-barang di toko-toko yang ada di dalam bandara dengan status “duty free” alias bebas pajak, tapi tetap saja harga di bandara lumayan mahal.

Saat melewati pemeriksaan x-ray terakhir sebelum boarding, petugasnya sempat meminta saya untuk memeriksa isi tas karena terdeteksi ada cairan. Saya baru sadar, kalau masuk kabin tidak boleh bawa cairan yang isinya lebih dari 100ml, dan terpaksa sabun dan parfum saya disita (habis selama ini alat-alat mandi seperti itu masuk bagasi jadi tidak masalah). Lumayan jadi pengalaman untuk kedepannya kalau naik pesawat lagi tanpa bagasi.

Diruang boarding seluruh penumpang diharuskan menuliskan lembar deklarasi/pernyataan untuk memasuki Singapura yang akan diperiksa di imigrasi sana kelak.

Dan petualangan pun dimulai!

It’s Singapore!

First impression saya di Changi yaitu bandara yang modern, mewah dan sangat berkelas. Informasi apapun mudah ditemukan dan jelas sehingga turis asing dapat dengan mudah memahami sudut-sudut bandara dan arah yang akan dituju.

Perjalanan dari bandara Changi menuju hotel kami yang masih di sekitaran Orchard Rd. ditempuh menggunakan SMRT (MRT nya Singapura) hanya memakan waktu 30 menit dengan membayar tiket S$1.73 saja (kurs kurang lebih 10rb).

Sepanjang perjalanan saya mengagumi Singapura yang bersih, rapih dan tertata dengan baik. Bukan hanya itu, attitude warga Singapura patut ditiru seperti dalam hal etika, memberikan tempat duduk kepada orang tua atau orang yang membawa anak kecil (kalau di Indonesia pasti kebanyakan langsung pura-pura tidur). Ibarat wong ndeso yang baru pertama ke kota, decak kagum terus menghampiri diri saya dan tidak kerasa pegal karena hampir sepanjang perjalanan saya berdiri.

Perjalanan ke hotel berhenti di stasiun Dhoby Ghaut, sebuah exchange station yang menghubungankan beberapa rute MRT sehingga kita bisa transit dan bertukar kereta di sini. Kami menginap di Innotel Hotel yang terletak di Penang Ln. di belakang Park Mall yang kebetulan jaraknya dekat dengan stasiun MRT Dhoby Ghaut yang berada diantara Orchard Rd. dan Penang Rd. Hotelnya cukup bagus dan yang terpenting lokasinya strategis.

Traffic?

Talking about traffic, saya salut deh sama gaya berkendara orang sini. Entah takut dengan denda yang selangit atau memang sudah kesadaran warga negaranya, saya melihat mereka sangat patuh dengan yang namanya traffic light. Bayangkan saja, di jalan raya yang besar dan tiba-tiba lampu penyebrangan orang menyala, mobil-mobil tidak satupun yang berani menerobosnya sangat berkebalikan dengan di sini (Indonesia-red) dan saya pun mengakui masih suka menerobos :p. Mobil-mobil di Singapura rata-rata masih berumur muda dan bagus-bagus, Mercedes dan BMW pun yang notabennya mobil mewah di kita, dapat kita temui dengan mudah disana.

Namun pejalan kaki pun sama harus patuh sama lampu penyebrangan, soalnya kendaraan di sini sangat kencang jadi harus berhati-hati terutama yang membawa anak kecil. Mau menyebarang jalan kecil (street) pun harus melewati zebra cross dulu karena takut di awasi oleh CCTV yang ada di mana-mana.

DSCF0080

Marina Bayfront – Garden by the Bay

Destinasi pertama di hari pertama yaitu Garden By The Bay yang cukup terkenal, berada di daerah Marina. Perjalanan kesini ditempuh pakai MRT juga dengan tujuan St. Bayfront. Di Bayfront ini yaitu sebuah mall yang ramai oleh banyak turis dan di sini juga kita bisa naik kapal-kapalan seperti gondola di Venice. Saya belum tau seluk beluk mall ini, namun di dalam mall ini terdapat akses ke stasiun MRT dan ke Marina Bay Sands serta Garden By The Bay.

DSCF0098

Akhirnya saya bisa melihat langsung bangunan Marina Bay Sands yang kini menjadi salah satu ikon di Singapura dengan tiga tower yang menjulang tinggi dengan sebuah “surfing board” di atapnya. Dan memang kalau dari dekat sangat besar dan tinggi sekali Marina Bay Sands ini semoga suatu saat nanti saya bisa menginap disana.

DSCF0119

Bangunan megah itu sudah cukup mengalihkan perhatian saya, kini saatnya menikmati suasana sore yang tenang di Garden By The Bay. Ternyata bukan sekedar taman biasa, namun di dalamnya terdapat Flower Dome dan Cloud Foresrt yang besar dimana di dalamnya tumbuh berbagai macam bunga dan tanaman dari berbagai penjuru dunia. Bunga disni benar-benar bisa tumbuh subur seperti di habitatnya, dan bagi pecinta bunga harus kesini biar puas menikmati keindahan bunga-bunga yang ada.

Serta ada pula “Cloud Forest” dimana kita dibawa seolah-olah berada di hutan sungguhan karena tumbuh pepohonan yang rimbun dan sejuk serta adanya waterfall yang konon katanya waterfall indoor terbesar.

Waktu terus berjalan dan saat malam, udara disini disetting menyerupai keadaan pas malam di alam aslinya, dan saran saya kalau hendak kesini bawa jaket karena dinginnya lumayan juga. Dan tepat pukul 20.45 ada pertunjukkan lampu dan music di Super Tree Groove yang kalau sekilas kita lihat serasa berada di Pandora pada film Avatar. Paduan irama music dan permainan cahaya yang indah mengundang decak kagum para wisatawan sehingga betah menyaksikan pertunjukkan hingga usai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s